Konsep Sosial dalam Islam (Bagian I)
![]() I. MUQADDIMAH Bagaimana konsep sosial yang tedapat dalam Islam yang sebenarnya? Apabila disadari sebenarnya konsep sosial yang ditawarkan dalam Islam dapat membentuk sebuah masyarakat madani, muttaqin, dan harmonis. Ironinya, sebagai pemeluk agama Islam, masih banyak muslimin yang hanya sekedar tahu dan mendengar tanpa mencari tahu bagaimana sesungguhnya konsep sosial dalam Islam yang begitu indah dan menawan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya ketimpangan sosial yang berhujung pada ketidakharmonisan hubungan antara sesama masyarakat Islam. Tentunya konsep sosial ini ditujukan untuk beberapa hal berikut ini.
II. PEMBAHASAN Konsep-konsep sosial dalam Islam sangat memberikan banyak kontribusi dalam kehidupan sosial. Dalam pembahasan ini akan diangkat beberapa konsep dan contoh dari kehidupan sosial yang seyogyanya dapat dilakukan oleh setiap muslim. A. Konsep Sosial Islam berdasarkan Sudut Pandang Al-Qur’an 1. Menuju ke jalan taqwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali-Imran(3) : 134) Dalam ayat tersebut di atas, terdapat 3 buah sifat mulia yang merupakan anjuran Allah dalam membina kehidupan sosial antara lain : 1. Menafkahkan sebagian harta di waktu lapang dan sempit Sifat-sifat mulia di atas dapat dilihat pada kehidupan Rasulullah, keluarga, dan sahabatnya dalam beberapa sejarah kehidupan beliau. 2. Mencapai kebajikan sempurna kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali-Imran(3) : 92) Ini merupakan konsep kepedulian sosial lainnya yang dapat dilihat pada pribadi Rasul dan keluarganya. Adapun Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keluarganya telah memberikan contoh kepada kita dalam kisah puasa nazarnya selama 3 hari berturut-turut. Kisah tersebut berhubungan dengan ayat sebelum di atas (Ali Imran(3) : 134), yaitu berbagi di waktu sempit. 3. Memecahkan masalah Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl (16) : 125) Dalam beberapa penjelasan tafsir, ayat di atas sebetulnya lebih tepat dijadikan sebagai dasar dakwah. Namun Quraish Shihab mengatakan dalam tafsir Al-Misbah bahwa dalam ayat ini terdapat etika pergaulan sosial yang menarik dan rasional, di antaranya : a. Menyeru dengan hikmah dan cara yang baik Dalam beberapa tafsir, hikmah yang dimaksudkan di atas adalah ilmu. Hal ini bermaksud menjelaskan kepada para penyeru agar menyerukan kebaikan dengan ilmu, tidak dengan kebodohan. Sehingga kebenaran akan seruan tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan cara yang baik merupakan metode penyampaian yang didasarkan dengan siapa yang menjadi sasaran dan akhlaq dalam menyampaikan. Imam Ali mengatakan, berbicaralah sesuai dengan kemampuan mereka ( si pendengar ). Oleh karena itu, konsep sosial yang dimaksudkan di sini adalah hendaknya kita memiliki kepedulian untuk amar ma’ruf dan nahi munkar, namun dengan hikmah dan mau’idzotil hasanah. Karena itu bukan tugas seorang ustadz atau ustadzah, melainkan tugas setiap muslim. b. Membantah dengan cara yang paling baik Dalam ayat ini Allah mengajarkan kepada kita untuk dapat membantah dengan cara yang paling baik. Membantah dengan cara yang paling baik bukanlah sebuah anjuran untuk membantah, namun yang dimaksud di sini adalah sebuah metode dialog yang baik. Dan ini menjadi pelajaran untuk kita dalam kehidupan sosial untuk dapat mendahulukan akhlaq saat kita berlainan pendapat. Karena realita yang ada menunjukkan bahwa karena perbedaan pendapat sering menjadi bumerang untuk memecah belah persatuan.
4. Membentuk persahabatan yang indah dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat (41) : 34) Ayat ini sangat jelas menunjukkan kepada kita betapa Allah adalah Maha Benar. Ini dapat terlihat pada salah satu riwayat Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad. Bagaimana ketika beliau memperlakukan orang yang mencelanya dengan cara membalasnya dengan kebaikan, seperti memberikan tempat tinggal, makan, hingga bekal perjalanan pulangnya. Namun demikian, Allah mengatakan dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (An-Nahl (16) : 126) Dengan demikian, Islam memberikan alternatif dalam menanggapi kejahatan yang dilakukan orang terhadap kita. Tapi Allah tetap mengakhiri ayat di atas dengan pilihan yang lebih baik, yaitu sabar.
5. Menciptakan Persatuan Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash - Shaff (61) : 4) Ayat di atas memberikan gambaran tentang arti penting persatuan. Ketika muslimin berjuang pada barisan yang teratur, maka bukan sebuah harapan kecil tujuan yang diinginkan akan tercapai. Ironinya, yang terjadi sekarang justru perpecahan akibat perbedaan. Padahal Allah dengan jelas mengatakan orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. ( Alhujurat (49) : 10 ) Ayat-ayat di atas tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk menciptakan persatuan di antara sesama muslim. Dan itu tidak mungkin tercipta tanpa adanya keinginan untuk melakukan hal-hal berikut, yaitu :
6. Mengarah kepada keharmonisan Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. ( Alhujurat (49) : 11 ) Tentunya dari ayat di atas dapat kita petik kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang indah. Hal tersebut dapat terlihat dari ayat di atas yang memberikan larangan untuk mengolok-olok orang lain baik sesama muslim ataupun tidak. Dengan menjaga toleransi sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas, maka keharmonisan akan tercipta dalam kehidupan sosial bermasyarakat. (P: Faris) |
Komentar:



